USTADZAH KAYA’ ALLAH!!!

Siswa-siswiku yang Lutchu…  (Episode Ikbar)

Ah…muridku memang lucu-lucu. Selalu saja ada tingkah polah mereka yang membuat saya tersenyum. Seperti siang itu, siang yang pengap, saya mengajar baca tulis Al-Qur’an metode Qiro’ari (dulu, sekarang memakai metode Ummi). Seperti biasa, KBM saya mulai dengan salam, pengecekan semangat, dan do’a awal pelajaran. Sebelum membaca secara klasikal, saya berkata pada anak-anak, “Anak-anak, siapa pun nanti yang selalu semangat dan memperhatikan ustadzah selama pelajaran akan ustadzah kasih hadiah!”. Spontan perhatian anak-anak tertuju pada saya dan contongan kertas yang ada dalam genggaman saya.

“Dikasih apa ustadzah?” tanya Dito sambil melangkah maju.

“Eit…duduk dulu, yang rapi ya!!” teriak saya, Dito merengut sambil mundur teratur kemudian duduk di barisan depan, manut.

“Kira-kira ustadzah bawa apa ni…?”

“Engng…Kacang!!” teriak Tata

“Yaah, jadi ndak seru deh langsung ketahuan. He..he..Yup! Betul! Contongan ini berisi kacang anak-anak. Kok pinter sih?”, selidik saya pura-pura takjub. Terang aja gampang tertebak, lha wong anak-anak biasa beli kacang contongan. Dan gelak tawa mereka pun membahana, jumawa.

“‘Naah, jadi..siapa pun nanti yang bersikap manis akan ustadzah beri satu kacang. Kalau memperhatikan penjelasan ustadzah, nanti tak beri lagi, begitu seterusnya..understand kids?

Serempak anak-anak menjawab, “Yes, ma’am!!”

Dan pelajaran pun berlangsung, khusyuk. Anak-anak benar-benar bersikap manis. Satu persatu, butir demi butir  kacang rebus mereka kumpulkan, reward atas usaha mereka berlaku manis selama pelajaran.

Jam setengah dua, lima belas menit lagi do’a pulang.

“Anak-anak, kacangnya sudah bisa dimakan sekarang.” kata saya.

“Asyiik..!!” , spontan anak-anak membuka kulit kacang dan langsung melahapnya. Saya melihat mereka terharu, mereka begitu bahagia dan ceria sambil sesekali membandingkan jumlah kacang yang mereka peroleh dengan perolehan kacang teman-temannya, khas anak-anak.

“Ustadzah, ustadzah Shofa kaya’ Allah”, tiba-tiba Ikbar yang duduk di sebelah saya berkata, lirih.  Saya terperanjat, kaget!

“Hush!!”, spontan saya berteriak lirih. Ikbar langsung membekap mulutnya sendiri. Saya merasa bersalah.

“Lho, mas Ikbar kan tahu Allah tidak suka disamakan dengan makhlukNya. Lagipula, masak ustadzah yang sering marah-marah ini disamakan dengan Allah? ya jauh mas… Ndak boleh ngomong begitu lagi ya! ”

“Bukan ustdz, maksud Ikbar, ustadzah ini baik kayak Allah. Allah kan suka ngasih-ngasih ke kita. Tapi kalau ndak boleh ya wes, ustadzah kayak malaikat aja dah!”

Saya tersenyum, terharu. Satu lagi pelajaran yang saya dapat dari anak-anak hari ini.  Jika kita memberi mereka walau hanya dengan satu kebaikan saja maka mereka akan membalas kita beribu kebaikan pula. Jika kita memberi mereka hanya setangkai mawar, maka mereka akan memberi kata sebucket bunga.

Saya bukan guru terbaik dan tersabar di sekolah saya, karena tak jarang saya memarahi mereka ketika saya kehabisan akal menenangkan mereka ketika ramai. Akan tetapi baik atau tidak, sabar atau tidak, galak atau tidak itu tergantung cara pertama kita menanamkan image baik kita ke dalam otak anak-anak. Maka, berhati-hatilah dalam menanamkan image baik diri anda at the first time pada anak-anak.

KESAN PERTAMA BEGITU MENGGODA

SELANJUTNYA LUAR BIASA!!!!!

author : chova

Explore posts in the same categories: My Stu yg lutchu..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.