How Come?!!
Suati hari saya berjalan-jalan di Plaza Downtown, ritual biasa ketika suasana hati sedang buruk. Tak ada barang yang saya beli disana karena memang tujuan awal datang bukan belanja, hanya sekedar window shopping. Kemudian saya memutuskan mencari tempat duduk ketika kaki terasa kesemutan dan pegal. Kebetulan bangku yang saya duduki begitu strategis hingga mata saya bisa menyapu hampir seluruh sudut perbelanjaan. Ketika sedang memandangi orang-orang yang berlalu lalang, mata saya menangkap sesosok gadis berbalut kaos ketat dan jeans yang warnanya pun hampir pudar. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai dengan poni menyamping. Rasa-rasanya kok pernah kenal? Batin saya. Orang itu semakin mendekat dan…
“Ya Allah! Nia?” pekik saya.
Mungkin suara saya terlalu keras hingga membuat perhatian orang-orang di sekeliling sedikit tersita mengarah pada saya. Pun juga gadis itu.
“Kamu Nia? Nia Ma’had Hijau itu kan?” ulang saya, kata ma’had sengaja saya tekankan untuk memberi kesan penegasan.
Dahi gadis itu sedikit mengernyit, seperti mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan yang terserak.
‘Iya, kamu… Liya? Liya kamar 3 itu kan?!’ saya mengangguk sambil tersenyum.
ternyata benar, dia Nia yang dulu saya kenal. Nia yang dulu kalem dan sederhana. Nia yang paling rajin memukul-mukulkan gayung pada daun pintu ketika kami, penghuni kamar 3 Ma’had Hijau, tidak juga bangun dan bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu’. Nia yang begitu alim di mata kami. Dan sekarang saya begitu takjub memandangnya, dia terlihat sangat berbeda!. Wajah yang dulu kalem yang hanya tersaput bedak tabur kini merona merah muda. Cukup terlihat meski samar. Dan yang paling membuat saya ternganga, bajunya! Astaghfirullah… hot nut!
“Waduuh, tambah sehat saja nih! Sekarang lagi ngapain aja?”
“Yah, biasalah..kuliah, aku juga ikut kegiatan di organisasi..bla..bla.. juga ikut bla…bla…bla…”
Dan cerita pun mengalir, tentang teman-teman kampusnya, tentang seabrek kegiatannya, juga hal-hal yang sama sekali nggak penting, sekedar basa-basi.
Saya hanya tersenyum menanggapi cerita-cerita yang mengalir, pertanyaan-pertanyaannya pun saya jawab sekedarnya. Saat itu pikiran saya hanya dipenuhi satu pertanyaan, pertanyaan yang ingin sekali saya ajukan pada Nia, tapi selalu urung. Rasa takut menyinggung perasaan, riskan, juga takut dibilang mencampuri urusan orang lain membuat saya menekan pertanyaan itu. Tapi saya benar-benar penasaran!
“Eee…Nia, emmm…boleh Tanya?” Nia hanya diam, tapi alis matanya mengatakan iya.
“Itu…udah nggak pake’?” Tanya saya sambil mengarahkan telunjuk pada kepala.
Nia hanya tertawa kecil.
“Ooh, ini…? nggak”.
“Nggak?? Maksudnya?”
“Ya..nggak, nggak pake”.
“Kok?”
Lagi-lagi dia hanya tertawa.
“Iya, aku sekarang sudah nggak pake’ lagi. Gerah! Pake’nya ya cuma pas pengajian aja… Lagipula rambutku sering rontok kalo pake’ kerudung. Saran temen-temen sih disuruh lepas, ya udah aku coba, eee…ternyata benar lho!”
Ya Allah, Cuma itu alasannya? Hanya karena rambut rontok?
Saya begidik. Ternyata Nia memang benar-benar telah berubah!
“Nia, ehm..sekarang keliatan tambah langsing loh…”
“O ya? Masa’ sih?” katanya dengan nada sangsi. Tapi saya menangkap semburat kebanggaan yang coba ia sembunyikan di wajahnya. Kebanggaan karena baju yang ia kenakan mampu mempertontonkan tubuh langsingnya, mungkin.
Bukankah ini wajar kalau seorang gadis merasa senang dan bangga ketika dikatakan cantik? Dan menurut kacamata orang barat, definisi cantik adalah mereka yang mempunyai tubuh langsing dan aduhai?
Masya Allah………
Kemudian kepingan-kepingan kenangan itu terkumpul satu-satu, merangkai sebuah album kenangan masa lalu, ketika kami masih di Ma’had Hijau. Terbayang wajah-wajah jengkel para murabbiyah ketika melihat kami keluar kamar tanpa kerudung. Mereka bertambah jengkel melihat kami memakai kerudung ala mbak tutut ketika mengaji sorogan.
Dulu kami sering kali menangis saat mendengar wejangan Romo kyai, gus, neng, ustadz/ustadzah tentang adzab Allah SWT, sekilas terlihat seperti mengendap di dasar hati. Dulu kami begitu ngati-ngati dalam segala hal, apalagi pada sesuatu yang sifatnya subhat. Dulu kami sangat menjaga kehormatan kami, baju yang kami pakai, dandanan juga jilbab. Dan sekarang???…… Tiba-tiba dada saya berdesir miris. Dan memandang Nia smembuat saya semakin tak percaya, kenapa sekarang begitu berani? Kemana perginya hati yang dulu begitu takut pada adzab Tuhan? Terbang kemanakah ayat-ayat yang dulu selalu kami jadikan pegangan?
Seperti potongan-potongan gambar buram membentuk slideshow, terlihat wajah Romo Kyai sedang menasehati para santri dengan berapi-api, para santri yang serius menyimak, kerumunan santri dengan baju panjang selutut dan kerudung menjulur menutupi dada juga kitab di pangkuan, dan…….gambar-gambar itu semakin buram. Semakin tak jelas dan perlahan hilang memudar.
Teruntuk hati yang terbalut lumpur Taukah kau kapan pertama kali out of control?
Desember 2, 2007 at 12:36 am
chov…plaza downtown ada di sebelah mana sech??kasih tau alamatnya donk?!?! hehehe…
Very nice story, menarik, emg untuk menetapkan hati tuh tergantung orang yg ngelakuin apa dia bisa membawa dirnya ke arah yg lbh baek. aku jg sulit kadang untuk menetapkan hatiku dlm suatu prmslhn trtntu..yahh..balik lagi ke orangnya.
btw kmu tanya gak apa tipsnya temenmu biar bisa langsing ho..ho.ho…
Januari 6, 2008 at 1:48 am
nama nama di atas ni.. bukan nama sebenarnya kok, alias fiktif! jangan G-R ya….
jadi jangan ada seseorang yang merasa difitnah, diejek, dihina, dilecehkan (duile…udah kaya’ artis aja)hanya karena namanya sama. I don’t mock anyone!