USTADZAH KAYA’ ALLAH!!!

Terkirim Desember 9, 2010 oleh chova
Kategori: My Stu yg lutchu..

Siswa-siswiku yang Lutchu…  (Episode Ikbar)

Ah…muridku memang lucu-lucu. Selalu saja ada tingkah polah mereka yang membuat saya tersenyum. Seperti siang itu, siang yang pengap, saya mengajar baca tulis Al-Qur’an metode Qiro’ari (dulu, sekarang memakai metode Ummi). Seperti biasa, KBM saya mulai dengan salam, pengecekan semangat, dan do’a awal pelajaran. Sebelum membaca secara klasikal, saya berkata pada anak-anak, “Anak-anak, siapa pun nanti yang selalu semangat dan memperhatikan ustadzah selama pelajaran akan ustadzah kasih hadiah!”. Spontan perhatian anak-anak tertuju pada saya dan contongan kertas yang ada dalam genggaman saya.

“Dikasih apa ustadzah?” tanya Dito sambil melangkah maju.

“Eit…duduk dulu, yang rapi ya!!” teriak saya, Dito merengut sambil mundur teratur kemudian duduk di barisan depan, manut.

“Kira-kira ustadzah bawa apa ni…?”

“Engng…Kacang!!” teriak Tata

“Yaah, jadi ndak seru deh langsung ketahuan. He..he..Yup! Betul! Contongan ini berisi kacang anak-anak. Kok pinter sih?”, selidik saya pura-pura takjub. Terang aja gampang tertebak, lha wong anak-anak biasa beli kacang contongan. Dan gelak tawa mereka pun membahana, jumawa.

“‘Naah, jadi..siapa pun nanti yang bersikap manis akan ustadzah beri satu kacang. Kalau memperhatikan penjelasan ustadzah, nanti tak beri lagi, begitu seterusnya..understand kids?

Serempak anak-anak menjawab, “Yes, ma’am!!”

Dan pelajaran pun berlangsung, khusyuk. Anak-anak benar-benar bersikap manis. Satu persatu, butir demi butir  kacang rebus mereka kumpulkan, reward atas usaha mereka berlaku manis selama pelajaran.

Jam setengah dua, lima belas menit lagi do’a pulang.

“Anak-anak, kacangnya sudah bisa dimakan sekarang.” kata saya.

“Asyiik..!!” , spontan anak-anak membuka kulit kacang dan langsung melahapnya. Saya melihat mereka terharu, mereka begitu bahagia dan ceria sambil sesekali membandingkan jumlah kacang yang mereka peroleh dengan perolehan kacang teman-temannya, khas anak-anak.

“Ustadzah, ustadzah Shofa kaya’ Allah”, tiba-tiba Ikbar yang duduk di sebelah saya berkata, lirih.  Saya terperanjat, kaget!

“Hush!!”, spontan saya berteriak lirih. Ikbar langsung membekap mulutnya sendiri. Saya merasa bersalah.

“Lho, mas Ikbar kan tahu Allah tidak suka disamakan dengan makhlukNya. Lagipula, masak ustadzah yang sering marah-marah ini disamakan dengan Allah? ya jauh mas… Ndak boleh ngomong begitu lagi ya! ”

“Bukan ustdz, maksud Ikbar, ustadzah ini baik kayak Allah. Allah kan suka ngasih-ngasih ke kita. Tapi kalau ndak boleh ya wes, ustadzah kayak malaikat aja dah!”

Saya tersenyum, terharu. Satu lagi pelajaran yang saya dapat dari anak-anak hari ini.  Jika kita memberi mereka walau hanya dengan satu kebaikan saja maka mereka akan membalas kita beribu kebaikan pula. Jika kita memberi mereka hanya setangkai mawar, maka mereka akan memberi kata sebucket bunga.

Saya bukan guru terbaik dan tersabar di sekolah saya, karena tak jarang saya memarahi mereka ketika saya kehabisan akal menenangkan mereka ketika ramai. Akan tetapi baik atau tidak, sabar atau tidak, galak atau tidak itu tergantung cara pertama kita menanamkan image baik kita ke dalam otak anak-anak. Maka, berhati-hatilah dalam menanamkan image baik diri anda at the first time pada anak-anak.

KESAN PERTAMA BEGITU MENGGODA

SELANJUTNYA LUAR BIASA!!!!!

author : chova

Titip Rindu untuk Ayah

Terkirim November 23, 2010 oleh chova
Kategori: Tidak terkategori

Ayah…

Aku kangen ayah…

Saat ayah bercerita tentang Ande-Ande Lumut

Bahkan Si Kancil Pencuri Timun

Aku kangen ayah…

Saat ayah memasakkanku ikan tongkol bumbu rujak

pun nasi goreng nasi kemarin

Dan aku merasa bersalah

Ketika ayah bertanya “Malukah kau berayah aku?”

Ayah bersedih ketika aku diejek kawanku

Hanya karena ayah gemuk

Ah Ayah…

Aku tidak pernah menyesal menjadi anak ayah

Karena Ayah orang terhebat yang aku kenal.

Aku hanya menyesal

karena tak sempat menghujani dadamu dengan kebanggaan

karena mempunyai anak seperti aku

karena tak sempat mengukir bibirmu

menjadi lengkungan cawan yang sempurna

Ah ayah…

Aku kangen Ayah …

Sangat kangen………….

 

Ya Allah, titip rinduku untuk ayah…

jadikan do’a di penghujung sujudku do’a anak sholeh yang sampai padanya….

amiin……………….

Ayah…

Terkirim November 23, 2010 oleh chova
Kategori: Poem

Ayahku adalah hujan

yang membawa kesejukan ketika kemarau

Ayahku adalah mentari

yang memberiku kehangatan dikala pagi menjelang

di sisi ayah….

kurasakan hawa surga

Siswa-siswiku yang lutchu….

Terkirim November 23, 2010 oleh chova
Kategori: My Stu yg lutchu..

Pernahkah anda didera kebingungan? Kebingungan yang tak terdefinisi karena sulitnya menjelaskan something looks like simple pada anak kecil? Anak kecil yang ‘wants to know much’? Saya pernah mengalaminya. Waktu itu saya sedang duduk-duduk sendirian di depan kantor pada waktu istirahat pertama. Mengamati anak-anak didik yang berkutat dengan kegembiraannya sendiri sangat menghibur saya. Tiba-tiba datang anak kelas II menghampiri saya.

“Sudah berapa bulan bu?” tanyanya tiba-tiba. Ah…pertanyaan yang sama. Entah, sejak saya mengandung mereka selalu memperhatikan saya. Seperti bidan pada pasiennya. Bahkan suatu hari mereka pernah memperingatkan saya untuk tidak minum es! Luar biasa!! Mereka benar-benar cerdas! Ketika saya tanya alasannya, mereka menjawab “Nanti kalau ibu minum es, dede’nya ndak bisa keluar bu… harus dioperasi”. Guest what?!! Darimana mereka tahu? Ah, ternyata mereka lebih cerdas dari yang saya duga.

Kembali ke anak perempuan kelas II SD yang menghampiri saya tadi.  Dia masih bergelayut di tangan saya ketika dengan tiba-tiba dia berkata, “Bu, nanti kalau mbak Jehan gede,  jehan ndak mau hamil!” Lho?!! anak sekecil ini kenapa punya pikiran seperti itu? Dengan menahan rasa terkejut plus tertawa saya bertanya, “Lho? kenapa? Bu guru saja senang sekali mengandung, kenapa mbak jehan nggak?”

“Jehan takut, ntar pas melahirkan perut Jehan kan harus dibelah? pasti sakit ya bu??! “

Saat itu  ingin rasanya tertawa keras-keras, tapi urung demi melihat wajah mungil itu terlihat begitu serius.

“Tidak semua ibu yang melahirkan perutnya harus dibelah sayaang… karena ada lho dede’ yang lahir tanpa operasi “

Dan Jehan pun tambah merengut, gelombang air di dahinya bartambah, berlipat-lipat semakin dalam.

“Lho? terus darimana? masa’  sama kaya’ ee’? Iiih…pasti tambah sakit ya bu?? Jehan aja kalo ee’ pas keras gitu suakitnya minta ampun lho!Apalagi kalo melahirkan ya bu?”

Saya semakin ingin tertawa, dan meledaklah tawa saya…

“Ya ndaklah han…ya dari tempat keluarnya pipis…”

“Lho bu? masa’ bisa? adek bayi kan besar??? “

Dan saya pun tambah melongo?! Bingung. Kalimat apalagi yang bisa ia cerna? Ya Allah bantu saya menyederhanakan kata-kata yang tak mereka pahami…

 

My expecting baby…

Terkirim Maret 24, 2009 oleh chova
Kategori: Tidak terkategori

Geliat-geliat dan tendangan-tendangan lembut itu terasa lagi..apalagi ketika aku duduk terlalu lama. Ah anakku….semoga kau nyaman di rahim ibu. Ibu selalu khawatir ketika melihat dunia sekarang. Ibu takut kau tak senyaman sekarang, kau tak seaman sekarang. Bukannya ibu takut tak bisa melimpahimu dengan materi, apalagi kasih sayang. Bukan itu…

Ibu hanya takut kelak kau  jauh dengan Tuhanmu, Allah SWT yang telah begitu baik menjagamu. Ibu takut kau lebih dekat dengan tuhan-tuhan baru yang lebih memikatmu. Ibu hanya takut kau tak lagi mengenal rasulmu, Muhammad SAW, Para Khalifah dan Tabi’in. Ibu takut kau lebih mengenal David Beckham, Ariel P-Pan, Afdel, dan personil slank. Ibu hanya takut kau tak lagi mengenal Khadijah, Ummu Halah, Zaenab, Aisyah, Asiyah, Mariatul Qibtiyah dan Ummu Haram. Ibu takut kau lebih menyukai Agnes monica, Britney spears, Winfrey, dan aura kasih. Itu yang sangat Ibu takutkan nak….

Ibu tidak ingin melihat kau tumbuh menjadi seorang penyanyi apalagi dengan goyang erotis.

Ibu tidak ingin kau tumbuh menjadi model yang mempertontonkan auratnya dengan bangga tanpa dosa.

Ibu tidak ingin kau menjadi pejabat-pejabat korup yang suka memakan harta rakyat.

Ibu tidak ingin kau menjadi sekutu musuh-musuh Allah.

Ibu tidak ingin nak….

Ah anakku…..

Kelak jika kau laki-laki,

Ibu hanya ingin kau meneladani Muhammad SAW,  seadil Umar, secerdas Ali, sepemberani Hamzah, takut memakan yang bukan haq seperti Harist Almuhasibi.

Kelak jika kau perempuan,

Ibu ingin kau semulia Khadijah, secerdas Aisyah, berpendirian seperti Asiyah, berbudi baik seperti Fatimah, sedermawan Zaenab.

Bantu Ibu dan Bapak lebih dekat dengan Allah nak……………..

Sebuah Do’a

Terkirim Desember 22, 2008 oleh chova
Kategori: Tidak terkategori

Do’a sang Pengantin

Ya Allah, andai engkau berkenan
Limpahkan kepada kami
Cinta yang Kau jadikan pengikat rindu
Rasulullah saw dan Khadijah Al-Kubra
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang
Imam Ali dan Fatimah Az-zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga
NabiMu yang suci

Ya Allah, andai semua itu tak layak bagi kami
Maka cukupkanlah permohonan kami
Dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami suami-istri yang
Saling mencintai dikala dekat
Saling menjaga kehormatan dikala jauh
Saling menghibur dikala duka
Saling mengingatkan dikala bahagia
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketakwaan
Saling menyempurnakan dalam peribadatan

Ya Allah, sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan pernikahan ini
Sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan dan cinta kami
Kepada sunnah keluarga rasul-Mu

Dalam Matsnawi, Maulana Jalaluddin Rumy
“Berdendang tentang cinta”


Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari tanpa dicari kekasihnya
Apabila kilat cinta telah menyambar hati yang ini, ketahuilah ada cinta dalam hati yang lain.
Apabila cinta Allah bertambah besar di dalam hatimu, pastilah Allah menaruh cinta atasmu.
Tak ada bunyi tepuk tangan hanya dengan satu tangan, tanpa tangan yang lain.
Kebesaran illahi adalah takdir dan ketetapan yang membuat kita cinta satu sama lain. Karena takdir itu, setiap bagian dunia ini, dipertemukan dengan jodohnya.
Jalaludin Rumi……

Rehat yuk…

Terkirim Desember 22, 2008 oleh chova
Kategori: edu

Laskar Pelangi

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Laskar pelangi
Tak kan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwaMenarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia
Selamanya

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kitaLaskar pelangi
Tak kan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumiMenarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia…………….
Selamanya

Laskar pelangi
Tak kan terikat waktu

Untuk guru-guru terbaik Indonesia, khususnya yang ada di pelosok-pelosok negeri. Yang masih bisa tersenyum meski kehidupan yang sulit makin menghimpit, yang terus berjuang melukis lengkung cawan yang sempurna di bibir anak-anak Indonesia, yang selalu berusaha menjaga mimipi-mimpi itu tetap ada, yang tetap berdiri lincah dan bersemangat di depan kelas meski teman-temannya berdiri gagah di jalan raya menuntut kenaikan gaji………………
Keep on istiQomah yaa……………………
Meski pemerintah kadang tak adil pada kita.
Yakinlah bahwa Tuhan pasti adil pada kita.
insyaAllah……………………………………………

Pembelajaran yang menyenangkan

Terkirim Desember 6, 2008 oleh chova
Kategori: edu

ROLE-PLAY

Pembelajaran bisa dikatakan berhasil jika para siswa termotivasi untuk selalu belajar, selalu berpartisipasi aktif dan penuh semangat dalam setiap pelajaran yang diberikan oleh guru. Untuk itulah dewasa ini sangat diperlukan kemampuan dan kreatifitas guru dalam mendesain metode pembelajaran yang bisa memotivasi belajar siswa sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.

Dalam pembelajaran speaking, ada beberapa metode belajar yang bisa dijadikan sebagai alternative bagi para pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Salah satunya adalah metode Role-Play atau bermain peran.

Role-Play atau biasa disebut dengan bermain peran merupakan metode pemebelajaran yang mengajak siswa untuk mengimajinasikan dirinya berada pada suatu kondisi di luar kelas, atau memerankan tokoh lain dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks.[1] Senada dengan yang dikatakan oleh Harmer (1998) dalam bukunya yang berjudul “How To Teach English, An Introduction To The Practice Of English LanguageTeaching” mengemukakan bahwa:

Role-play activities are those where students are asked to imagine that they are in different situations and act accordingly.

Azies dan Alwasilah (1996: 95-101) mejelaskan dalam bukunya bahwa teknik bermain peran banyak dipakai dalam pengajaran bahasa karena kegiatan belajar dan mengajar dengan menggunakan metode ini sangat menyenangkan. Bermain peran bisa dilakukan dengan mengikuti dialog yang ada dalam wacana, bisa berperan bebas sesuai dengan imajinasi, memerankan berbagai peran yang berbeda; berbeda dalam moods (senang, sedih, bosan, marah, gembira dan sebagainya), atau dalam memerankan suatu hubungan (misalnya berperan sebagai orang tua dan anak, suami dan istri, dan sebagainya).[2] Kegiatan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan role-cards dan dibagikan pada masing-masing kelompok.

Dalam melaksanakan teknik bermain peran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya memilih peran. Dalam kegiatan ini, para siswa memiliki identitas baru sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Latihan menjadi orang lain ini menjadi simulasi.

Kegiatan ini bisa dilakukan dengan berpasangan. Setelah itu beberapa pasang yang lain diminta tampil untuk mengulangi percakapannya. Dalam bermain peran ada dua atau lebih yang dipraktekan oleh para siswa. Para siswa terlebih dahulu diberi ungkapan-ungkapan berupa kalimat dan kosa kata yang berkaitan dengan topik pembicaraan pada sesi tertentu. Jadi bermain peran bisa diadakan dengan mengaplikasikan bentuk-bentuk bahasa yang ada dalam dialog. Mungkin saja bermain peran ini tidak murni komunikatif tetapi kegiatan ini merupakan bentuk lain latihan komunikasi. Adapula bermain peran yang bebas yaitu para siswa hanya diberi bentuk bahasa lisan kemudian mereka sendiri yang membuat skenarionya. Mungkin tipe ini lebih disenangi para siwa karena mereka memiliki beberapa keunggulan, tipe ini memberikan kesempatan pada siswa untuk berimprovisasi dalam menggunakan bahasa inggris yang biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memotivasi siswa untuk lebih kreatif.[3]

a. Tujuan Penerapan Metode Role-Play

Pengajaran bahasa asing, dalam hal ini bahasa inggris, yang berorientasi pada kemampuan berkomunikasi memiliki tujuan mengembangkan pembelajaran agar mampu berkomunikasi dalam bahasa asing yang dipelajarinya. Itulah sebabnya pemilihan bahan ajar tidak bisa dilepaskan dari teknik pengajaran yang berorientasi pada keterampilan berbahasa secara aktif.

Tujuan metode ini adalah agar para siswa dengan kebebasan sendiri dapat menggambarkan suatu kejadian dan mengimplementasikan tindak tutur yang berupa kalimat-kalimat fungsional yang diberikan dengan teknik bermain peran sehingga para siswa mampu menggunakan ungkapan fungsi bahasa yang bisa menghidupkan suasana kelas.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa terutama berbicara (speaking skill) dan menyimak (listening skill) serta untuk meningkatkan motivasi belajar siswa untuk berbicara bahasa inggris.

b. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Role-Play

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan metode role-play adalah:

  1. Guru membagi siswa dalam kelompok, setiap kelompok bisa terdiri dari empat atau enam siswa.
  2. Situasi dan problem yang dipilih sesuai dengan kemampuan dan menarik minat.
  3. Guru membagikan role-cards pada masing-masing kelompok, setiap individu dalam kelompok mendapatkan satu role-card.
  4. Guru menyuruh tiap kelompok berdiskusi untuk menentukan ‘siapa yang memerankan siapa’.
  5. Tiap kelompok membuat sendiri dialog sesuai dengan situasi, masalah, dan peran yang akan dimainkan.
  6. Guru menyuruh tiap kelompok untuk memulai bermain peran di depan kelas satu per satu.
  7. Guru menetapkan peranan pendengar.
  8. Kelompok lain yang belum ­perform menyimak dan mencatat kesalahan-kesalahan bahasa yang digunakan.[4]

c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Role-Play

Setiap metode pembelajaran pasti ada kelebihan dan kelemahannya. Berikut ini adalah kelebihan dan kelemahan dari penerapan metode role-play.

  1. Kelebihan metode role-play
    • Siswa bisa berperan bebas sesuai dengan imajinasi.
    • Metode ini merupakan salah satu cara yang memberikan kesempatan pada siswa untuk berimprovisasi mempraktekkan real-life spoken language dalam kelas.
    • memacu kreativitas siswa dalam mempraktekkan apa yang telah mereka ketahui, memperbaiki kekurangannya dan mengembangkan pengetahuan-nya.
    • Kelas menjadi lebih aktif tetapi terkendali dibawah bimbingan guru.
    • Siswa dapat bersenang-senang karena metode ini memungkinkan terciptanya suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan.
    • Metode ini disamping mengasah kemampuan berbicara (speaking skill) sekaligus mengasah kemampuan menyimak (listening skill)
    • Metode role-play merupakan bentuk dari speaking activity yang memberikan kesempatan pada siswa untuk memainkan sebuah peran, memberikan feedback bagi guru dan siswa, serta dapat memotivasi siwa karena kegiatan ini menarik dan menyenangkan.
  2. Kelemahan metode role-play
    • Metode ini menjadi tidak efektif ketika siswa kesulitan atau terkadang merasa malu dan tidak percaya diri memerankan perannya.
    • Terkadang siswa bingung dengan apa yang harus dilakukan karena penjelasan dan instruksi yang kurang jelas.

Terlepas dari itu semua, apapun, bagaimanapun dan sebaik apapun metode yang dipakai dalam suatu pembelajaran tidak akan berjalan dengan sempurna tanpa dibarengi otak guru yang ’sempurna’ pula. Guru tidak harus sejenius Einstein untuk menjadi sempurna, meski terkadang kejeniusan diperlukan disini. Guru hanya perlu sedikit kreatif, inovatif dalam menggunakan metode-metode pembelajaran, bersemangat dalam setiap kegiatan belajar-mengajar, mampu menularkan semangat pada siswa, serta mampu membaca situasi kelas. Keberhasilan seorang guru tidak hanya dilihat dan diukur dari keberhasilan seorang siswa mengumpulkan nilai-nilai yang sempurna dalam raportnya, lebih besar dari itu, guru bisa dikatakan berhasil ketika para siswanya bisa menerapkan apa yang guru ajarkan dalam kehidupan nyata. Sebuah nilai konkrit di dunia nyata.

Semoga kita, para guru terbaik Indonesia, bisa selalu mempersembahkan yang terbaik bagi siswa-siswi kita. Amiiin…………………

Author: Chova

Pendidik di sebuah sekolah dasar Islam swasta


[1] Penny Ur. A Course in Language Teaching: Practice and Theory. Cambridge University Press: Britain. 1996. hal 131

[2] Ibid. hal 132.

[3] Ibid. 133

[4] Jeremy Harmer, How To Teach English, An Introduction To The Practice Of English Language Teaching, Addison Wesley Longman: England. 1998. hal.93

Only About Me!!

Terkirim Oktober 17, 2008 oleh chova
Kategori: AKU

Only About Me!!
Salam ‘alaikum! Saya Shofa, kawan-kawan yang kenal saya biasa memanggil Chope, Nchop, Ncup, Copa dst…(yang terakhir saya kurang suka karena bagi saya pribadi artinya kurang enak didengar, bahkan menjijikkan!hiiiy…untuk lebih jelasnya liat kamus Bahasa Madura-Jawa atau Madura-Indonesia). Dilahirkan dan dibesarkan di kota tembakau tidak lantas membuat saya menggandrungi tanaman itu, malah anti! Poko’e No Smoking-lah!^_^’’. Saya baru empat bulan menjadi guru Elementary School , cita-cita yang dari dulu saya idam-idamkan….akhirnya…., dan masih sangat minim pengalaman!! Alhamdulillah..suami saya yang imut n lucu seorang pendidik juga. Setidaknya saya masih punya seseorang yang bisa saya jadikan perpustakaan! Hehe..afwan ya cayang. Sebenarnya sebelum di SD, saya sempat mengajar anak-anak Aliyah. Suungguh, ini merupakan pengalaman yang sangat berbeda. Bagaimana tidak? Usia mereka terpaut sangat jauh, masalah yang mereka hadapi pun sangat berbeda, alhasil strategi pembelajaran yang saya gunakan pun jadi berbeda. Karena masih sangat minim pengalaman, saya pernah gagal dalam mengajar! Down?pasti. Bingung? Iya.. sempat ingin menyerah? Pernah… tapi saya ingat bahwa innallahu ma’ana!!Selalu ada jalan bagi segala kesusahan. Namun terlepas dari itu semua, menjadi guru (apapun, entah TK, SD, SMP, SMU, University?) sangat menyenangkan!! Bukankah begitu wahai guru-guru Indonesia? Saya jadi ingat obrolan kawan-kawan saya seperjuangan di SD Islam swasta tempat kami mengajar, mendidik, sekaligus mencari ilmu, bahwa guru negeri tak mengajar tetap digaji tapi guru swasta tak digaji tetap mengajar hwehehehe…..tapi kami selalu digaji kok…alhamdulillah…….yaah… semoga gaji tak menyilaukan mata kami, sehingga keikhlasan kami dalam mengajar dan mendidik anak-anak tetap terjaga, aamiiin…
Untuk semua guru Indonesia! Khususnya para guru baru, Join and share your amazing extraordinary experience being teacher with me! Untuk guru-guru Indonesia yang sudah full pengalaman, share juga dong………bantu junior2 anda dalam mencerdaskan anak bangsa! Allahu Akbar!!Merdeka!

How Come?!!

Terkirim Desember 2, 2007 oleh chova
Kategori: curhat ye..

Suati hari saya berjalan-jalan di Plaza Downtown, ritual biasa ketika suasana hati sedang buruk. Tak ada barang yang saya beli disana karena memang tujuan awal datang bukan belanja, hanya sekedar window shopping. Kemudian saya memutuskan mencari tempat duduk ketika kaki terasa kesemutan dan pegal. Kebetulan bangku yang saya duduki begitu strategis hingga mata saya bisa menyapu hampir seluruh sudut perbelanjaan. Ketika sedang memandangi orang-orang yang berlalu lalang, mata saya menangkap sesosok gadis berbalut kaos ketat dan jeans yang warnanya pun hampir pudar. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai dengan poni menyamping. Rasa-rasanya kok pernah kenal? Batin saya. Orang itu semakin mendekat dan…
“Ya Allah! Nia?” pekik saya.
Mungkin suara saya terlalu keras hingga membuat perhatian orang-orang di sekeliling sedikit tersita mengarah pada saya. Pun juga gadis itu.
“Kamu Nia? Nia Ma’had Hijau itu kan?” ulang saya, kata ma’had sengaja saya tekankan untuk memberi kesan penegasan.
Dahi gadis itu sedikit mengernyit, seperti mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan yang terserak.
‘Iya, kamu… Liya? Liya kamar 3 itu kan?!’ saya mengangguk sambil tersenyum.
ternyata benar, dia Nia yang dulu saya kenal. Nia yang dulu kalem dan sederhana. Nia yang paling rajin memukul-mukulkan gayung pada daun pintu ketika kami, penghuni kamar 3 Ma’had Hijau, tidak juga bangun dan bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu’. Nia yang begitu alim di mata kami. Dan sekarang saya begitu takjub memandangnya, dia terlihat sangat berbeda!. Wajah yang dulu kalem yang hanya tersaput bedak tabur kini merona merah muda. Cukup terlihat meski samar. Dan yang paling membuat saya ternganga, bajunya! Astaghfirullah… hot nut!
“Waduuh, tambah sehat saja nih! Sekarang lagi ngapain aja?”
“Yah, biasalah..kuliah, aku juga ikut kegiatan di organisasi..bla..bla.. juga ikut bla…bla…bla…”
Dan cerita pun mengalir, tentang teman-teman kampusnya, tentang seabrek kegiatannya, juga hal-hal yang sama sekali nggak penting, sekedar basa-basi.
Saya hanya tersenyum menanggapi cerita-cerita yang mengalir, pertanyaan-pertanyaannya pun saya jawab sekedarnya. Saat itu pikiran saya hanya dipenuhi satu pertanyaan, pertanyaan yang ingin sekali saya ajukan pada Nia, tapi selalu urung. Rasa takut menyinggung perasaan, riskan, juga takut dibilang mencampuri urusan orang lain membuat saya menekan pertanyaan itu. Tapi saya benar-benar penasaran!
“Eee…Nia, emmm…boleh Tanya?” Nia hanya diam, tapi alis matanya mengatakan iya.
“Itu…udah nggak pake’?” Tanya saya sambil mengarahkan telunjuk pada kepala.
Nia hanya tertawa kecil.
“Ooh, ini…? nggak”.
“Nggak?? Maksudnya?”
“Ya..nggak, nggak pake”.
“Kok?”
Lagi-lagi dia hanya tertawa.
“Iya, aku sekarang sudah nggak pake’ lagi. Gerah! Pake’nya ya cuma pas pengajian aja… Lagipula rambutku sering rontok kalo pake’ kerudung. Saran temen-temen sih disuruh lepas, ya udah aku coba, eee…ternyata benar lho!”
Ya Allah, Cuma itu alasannya? Hanya karena rambut rontok?
Saya begidik. Ternyata Nia memang benar-benar telah berubah!
“Nia, ehm..sekarang keliatan tambah langsing loh…”
“O ya? Masa’ sih?” katanya dengan nada sangsi. Tapi saya menangkap semburat kebanggaan yang coba ia sembunyikan di wajahnya. Kebanggaan karena baju yang ia kenakan mampu mempertontonkan tubuh langsingnya, mungkin.
Bukankah ini wajar kalau seorang gadis merasa senang dan bangga ketika dikatakan cantik? Dan menurut kacamata orang barat, definisi cantik adalah mereka yang mempunyai tubuh langsing dan aduhai?
Masya Allah………
Kemudian kepingan-kepingan kenangan itu terkumpul satu-satu, merangkai sebuah album kenangan masa lalu, ketika kami masih di Ma’had Hijau. Terbayang wajah-wajah jengkel para murabbiyah ketika melihat kami keluar kamar tanpa kerudung. Mereka bertambah jengkel melihat kami memakai kerudung ala mbak tutut ketika mengaji sorogan.
Dulu kami sering kali menangis saat mendengar wejangan Romo kyai, gus, neng, ustadz/ustadzah tentang adzab Allah SWT, sekilas terlihat seperti mengendap di dasar hati. Dulu kami begitu ngati-ngati dalam segala hal, apalagi pada sesuatu yang sifatnya subhat. Dulu kami sangat menjaga kehormatan kami, baju yang kami pakai, dandanan juga jilbab. Dan sekarang???…… Tiba-tiba dada saya berdesir miris. Dan memandang Nia smembuat saya semakin tak percaya, kenapa sekarang begitu berani? Kemana perginya hati yang dulu begitu takut pada adzab Tuhan? Terbang kemanakah ayat-ayat yang dulu selalu kami jadikan pegangan?
Seperti potongan-potongan gambar buram membentuk slideshow, terlihat wajah Romo Kyai sedang menasehati para santri dengan berapi-api, para santri yang serius menyimak, kerumunan santri dengan baju panjang selutut dan kerudung menjulur menutupi dada juga kitab di pangkuan, dan…….gambar-gambar itu semakin buram. Semakin tak jelas dan perlahan hilang memudar.

Teruntuk hati yang terbalut lumpur Taukah kau kapan pertama kali out of control?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.