ROLE-PLAY
Pembelajaran bisa dikatakan berhasil jika para siswa termotivasi untuk selalu belajar, selalu berpartisipasi aktif dan penuh semangat dalam setiap pelajaran yang diberikan oleh guru. Untuk itulah dewasa ini sangat diperlukan kemampuan dan kreatifitas guru dalam mendesain metode pembelajaran yang bisa memotivasi belajar siswa sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.
Dalam pembelajaran speaking, ada beberapa metode belajar yang bisa dijadikan sebagai alternative bagi para pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Salah satunya adalah metode Role-Play atau bermain peran.
Role-Play atau biasa disebut dengan bermain peran merupakan metode pemebelajaran yang mengajak siswa untuk mengimajinasikan dirinya berada pada suatu kondisi di luar kelas, atau memerankan tokoh lain dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks. Senada dengan yang dikatakan oleh Harmer (1998) dalam bukunya yang berjudul “How To Teach English, An Introduction To The Practice Of English LanguageTeaching” mengemukakan bahwa:
Role-play activities are those where students are asked to imagine that they are in different situations and act accordingly.
Azies dan Alwasilah (1996: 95-101) mejelaskan dalam bukunya bahwa teknik bermain peran banyak dipakai dalam pengajaran bahasa karena kegiatan belajar dan mengajar dengan menggunakan metode ini sangat menyenangkan. Bermain peran bisa dilakukan dengan mengikuti dialog yang ada dalam wacana, bisa berperan bebas sesuai dengan imajinasi, memerankan berbagai peran yang berbeda; berbeda dalam moods (senang, sedih, bosan, marah, gembira dan sebagainya), atau dalam memerankan suatu hubungan (misalnya berperan sebagai orang tua dan anak, suami dan istri, dan sebagainya). Kegiatan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan role-cards dan dibagikan pada masing-masing kelompok.
Dalam melaksanakan teknik bermain peran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya memilih peran. Dalam kegiatan ini, para siswa memiliki identitas baru sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Latihan menjadi orang lain ini menjadi simulasi.
Kegiatan ini bisa dilakukan dengan berpasangan. Setelah itu beberapa pasang yang lain diminta tampil untuk mengulangi percakapannya. Dalam bermain peran ada dua atau lebih yang dipraktekan oleh para siswa. Para siswa terlebih dahulu diberi ungkapan-ungkapan berupa kalimat dan kosa kata yang berkaitan dengan topik pembicaraan pada sesi tertentu. Jadi bermain peran bisa diadakan dengan mengaplikasikan bentuk-bentuk bahasa yang ada dalam dialog. Mungkin saja bermain peran ini tidak murni komunikatif tetapi kegiatan ini merupakan bentuk lain latihan komunikasi. Adapula bermain peran yang bebas yaitu para siswa hanya diberi bentuk bahasa lisan kemudian mereka sendiri yang membuat skenarionya. Mungkin tipe ini lebih disenangi para siwa karena mereka memiliki beberapa keunggulan, tipe ini memberikan kesempatan pada siswa untuk berimprovisasi dalam menggunakan bahasa inggris yang biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari serta memotivasi siswa untuk lebih kreatif.
a. Tujuan Penerapan Metode Role-Play
Pengajaran bahasa asing, dalam hal ini bahasa inggris, yang berorientasi pada kemampuan berkomunikasi memiliki tujuan mengembangkan pembelajaran agar mampu berkomunikasi dalam bahasa asing yang dipelajarinya. Itulah sebabnya pemilihan bahan ajar tidak bisa dilepaskan dari teknik pengajaran yang berorientasi pada keterampilan berbahasa secara aktif.
Tujuan metode ini adalah agar para siswa dengan kebebasan sendiri dapat menggambarkan suatu kejadian dan mengimplementasikan tindak tutur yang berupa kalimat-kalimat fungsional yang diberikan dengan teknik bermain peran sehingga para siswa mampu menggunakan ungkapan fungsi bahasa yang bisa menghidupkan suasana kelas.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa terutama berbicara (speaking skill) dan menyimak (listening skill) serta untuk meningkatkan motivasi belajar siswa untuk berbicara bahasa inggris.
b. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Role-Play
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan metode role-play adalah:
- Guru membagi siswa dalam kelompok, setiap kelompok bisa terdiri dari empat atau enam siswa.
- Situasi dan problem yang dipilih sesuai dengan kemampuan dan menarik minat.
- Guru membagikan role-cards pada masing-masing kelompok, setiap individu dalam kelompok mendapatkan satu role-card.
- Guru menyuruh tiap kelompok berdiskusi untuk menentukan ‘siapa yang memerankan siapa’.
- Tiap kelompok membuat sendiri dialog sesuai dengan situasi, masalah, dan peran yang akan dimainkan.
- Guru menyuruh tiap kelompok untuk memulai bermain peran di depan kelas satu per satu.
- Guru menetapkan peranan pendengar.
- Kelompok lain yang belum perform menyimak dan mencatat kesalahan-kesalahan bahasa yang digunakan.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Role-Play
Setiap metode pembelajaran pasti ada kelebihan dan kelemahannya. Berikut ini adalah kelebihan dan kelemahan dari penerapan metode role-play.
- Kelebihan metode role-play
- Siswa bisa berperan bebas sesuai dengan imajinasi.
- Metode ini merupakan salah satu cara yang memberikan kesempatan pada siswa untuk berimprovisasi mempraktekkan real-life spoken language dalam kelas.
- memacu kreativitas siswa dalam mempraktekkan apa yang telah mereka ketahui, memperbaiki kekurangannya dan mengembangkan pengetahuan-nya.
- Kelas menjadi lebih aktif tetapi terkendali dibawah bimbingan guru.
- Siswa dapat bersenang-senang karena metode ini memungkinkan terciptanya suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan.
- Metode ini disamping mengasah kemampuan berbicara (speaking skill) sekaligus mengasah kemampuan menyimak (listening skill)
- Metode role-play merupakan bentuk dari speaking activity yang memberikan kesempatan pada siswa untuk memainkan sebuah peran, memberikan feedback bagi guru dan siswa, serta dapat memotivasi siwa karena kegiatan ini menarik dan menyenangkan.
- Kelemahan metode role-play
- Metode ini menjadi tidak efektif ketika siswa kesulitan atau terkadang merasa malu dan tidak percaya diri memerankan perannya.
- Terkadang siswa bingung dengan apa yang harus dilakukan karena penjelasan dan instruksi yang kurang jelas.
Terlepas dari itu semua, apapun, bagaimanapun dan sebaik apapun metode yang dipakai dalam suatu pembelajaran tidak akan berjalan dengan sempurna tanpa dibarengi otak guru yang ’sempurna’ pula. Guru tidak harus sejenius Einstein untuk menjadi sempurna, meski terkadang kejeniusan diperlukan disini. Guru hanya perlu sedikit kreatif, inovatif dalam menggunakan metode-metode pembelajaran, bersemangat dalam setiap kegiatan belajar-mengajar, mampu menularkan semangat pada siswa, serta mampu membaca situasi kelas. Keberhasilan seorang guru tidak hanya dilihat dan diukur dari keberhasilan seorang siswa mengumpulkan nilai-nilai yang sempurna dalam raportnya, lebih besar dari itu, guru bisa dikatakan berhasil ketika para siswanya bisa menerapkan apa yang guru ajarkan dalam kehidupan nyata. Sebuah nilai konkrit di dunia nyata.
Semoga kita, para guru terbaik Indonesia, bisa selalu mempersembahkan yang terbaik bagi siswa-siswi kita. Amiiin…………………